ulasan teks editorial

  • Teks editorial adalah artikel pokok dalam surat kabar yang merupakan pandangan redaksi dari media yang bersangkutan terhadap suatu peristiwa yang menjadi sorotannya itu. Biasanya diungka[kan fakta peristiwa atau masalah aktual
  • karakteristik umum teks editorial :
    • Berisi fakta-fakta tentang peristiwa ataupun permasalahan aktual
    • Berisi pendapat redaksi tentang peristiwa yang menjadi sorotannya itu, baik berupa kritik, penilaian, harapan, maupun saran-saran
    • terkandung solusi redaksi media yang bersangkutan terhadap suatu permasalahan, mungkin juga berupa simpulan dan sejumlah saran
  • teks editorial merupakan jenis teks argumentatif, karena mengandung sejumlah argumentasi penulisnya berkenaan dengan persoalan yang dipilihnya
  • hal yang diperoleh dari teks editorial juga bukan hanya fakta-fakta namun juga akan memperoleh banyak informasi lainnya, baik yang dapat berupa pendapat atau pandangan dan solusinya
  • didalam teks editorial, ada fakta, pendapat, gagasan, atau terkadang disebut opini untuk fakta-fakta yang menjadi fokus ulasannya itu
B. Meneyeleksi Beragam Informasi dalam Teks Editorial
  • membedakan informasi dalam teks editorial : membedakan informasi yang ada antara saran dan peringatan yang terkandung dalam teks
  • memilah informasi yang cocok untuk teks editorial : tema yang diangkat dalam teks editorial haruslah tema yang menarik untuk dibahas, karena didalam teks editorial mengandung fakta dan opini
  • hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan topik teks editorial :
    • menarik para peserta : harus yang bermanfaat, mengandung banyak perdebatan, dan aktual
    • sesuai dengan kapasitas pengetahuan para peserta : karena jika topik tersebut sangat menarik, namun tidak dapat dipahimi peserta maka hanya akan terjadi perdebatan yang menyesatkan
    • memiliki kejelasan : konflik yang terlalu luas dan komples dapat menyebabkan arena diskusi menjadi tidak berujung pangkal, mengambang, dan bertele-tele
    • sesuai dengan waktu dan situasi : dalam pemilihan masalah hendaknya disesuaikan dengan situasi dan waktu yang tersedia
C. Menentukan Struktur dan Kaidah Teks Editorial
  • struktur teks editorial :
    • pengenalan isu sebagai pendahuluan teks : sorotan peristiwa yang mengandung suatu persoalan aktual
    • penyampaian argumen-argumen sebagai pembahasan : tanggapan-tanggapan redaktur dari media yang bersangkutan berkenaan dengan peristiwa
    • simpulan, saran, ataupun rekomendasi sebagai penutup : pernyataan dalam menyelesaikan persoalan yang dikemukakan sebelumnya
  • Kaidah teks editorial :
    • banyak menggunakan kata populer, yang disesuaikan dengan karakteristik media itu sendiri. Seperti,  geger, cibiran
    • banyak menggunakan kata yang merujuk pada waktu, tempat, peristiwa
    • banyak menggunakan ungkapan persuasif agar dapat mempengaruhi pembaca dengan sejumlah argumentasi
    • banyak menggunakan pernyataan-pernyataan mempertentangkan, seperti melainkan, meskipun
    • menggunakan kata ganti kita untuk melibatkan pembaca 
D. Menyusun Teks Editorial 
  1. perancangan : secara bersama-sama merundingkan dan menuliskan sebuah tulisan yang dapat kita baca dalam media, teks editorial bermula dari peristiwa ataupun permasalahan yang terjadi di masyarakat. 
    1. penentuan isu
    2. pengumpulan fakta
    3. pengorganisasian fakta, sesuai kerangka
    4. pengembangan kerangka menjadi teks editorial
  2. penyuntingan : mencermati kembali isi, struktur, serta kaidah-kaidah kebahasaanya
    • aspek isi
    • struktur
    • kaidah
    • ejaan/tanda baca


contoh teks editorial

    PERINGATAN 75 tahun Indonesia merdeka pada hari ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada perlombaan dan kerumunan kegembiraan warga. Peringatan kali ini berpijak pada realitas dengan tetap merawat harapan Indonesia maju. 
    Realitasnya, saat ini, sebanyak 215 negara sedang menghadapi masa sulit di tengah pandemi covid-19. Hingga kemarin, di Indonesia terkonfirmasi 137.468 kasus positif covid-19 dengan angka kematian 6.071 orang.
  Covid-19 menerjang semua negara tanpa pandang status negara miskin, negara berkembang, atau negara maju. Dampak yang ditimbulkan sama rata sama rasa, yaitu mengalami kemunduran. 
    Kemunduran terparah selain di bidang kesehatan tentu saja perekonomian. Terus terang, krisis perekonomian kali ini terparah dalam sejarah. Di kuartal pertama 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih plus 2,97%, tapi di kuartal kedua telah berada di minus 5,32%.            Harus tegas dikatakan, kemunduran yang dialami saat ini bukan untuk diratapi. Sebaliknya, sebagaimana Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo pada 14 Agustus, krisis ini harus menjadi peluang dan momentum untuk mengejar ketertinggalan. 
    Melihat peluang dan momentum di tengah krisis sesungguhnya milik orang-orang yang selalu bersyukur dan optimistis. Bukan milik mereka yang selalu menyalahkan negara. Bukankah syukur dan optimistis itu menjadi modal sosial negara ini saat dimerdekakan? 
    Roh pantang menyerah dan merawat mimpi besar tentang Indonesia maju sudah dibangun oleh para pendiri negara. Kita, yang saat ini hanya meneruskannya, mestinya tidak pernah patah arah. 
    Modal sosial untuk terus merawat mimpi besar Indonesia maju, sadar atau tidak sadar, sudah lahir di tengah pandemi covid-19. Solidaritas membantu satu sama lain tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat. Semangat gotong-royong muncul di mana-mana.
     Tidak kalah pentingnya ialah negara hadir pada saat rakyat terhimpit. Kehadiran nyata negara ialah mengalokasikan belanja perlindungan sosial, kesehatan, insentif untuk UMKM, dan stimulus Rp695,2 triliun. Meski demikian, jujur pula dikatakan, pengelolaan dana stimulus itu masih jauh dari harapan. 
    Elok nian bila hari ini dijadikan momentum untuk menata ulang semangat berbangsa dan bernegara yang diletakkan di atas fondasi gotong-royong. Meminjam analogi Presiden Jokowi, kita melakukan restart komputer kebangsaan, menyeting ulang semua sistem kehidupan sosial dan ekonomi. 
    Boleh-boleh saja pandemi covid-19 melanda negeri ini bagai tsunami yang menerjang setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Kiranya kita jadikan pandemi ini untuk jeda, sejenak bingung untuk merenung tentang tujuan kemerdekaan. 
    Kemerdekaan yang diraih dengan mengorbankan jiwa dan raga itu bukanlah tujuan. Ia hanya alat, sekali lagi alat, untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Dengan demikian, kemerdekaan itu ialah jembatan emas untuk mewujudkan kemakmuran.                         Kemakmuran itu belumlah sepenuhnya diwujudkan. Indonesia maju yang menjadi tema kemerdekaan kali ini tepat momentum. Disebut tepat karena inilah kesempatan untuk bermimpi hingga jadi nyata dan kesempatan untuk berkarya tanpa batas. 
    Sekarang saatnya kita fokus kepada hal yang benar-benar penting dalam menyatukan keberagaman melalui kolaborasi. Pada saat bersamaan, kita tetap memegang teguh nilai-nilai luhur Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia, persatuan dan kesatuan nasional. Kita tidak bisa memberikan ruang sejengkal kepada siapa pun yang menggoyahkannya. 
    Boleh-boleh saja peringatan hari kemerdekaan pada hari ini dilakukan di jalan yang sunyi penuh syukur. Itulah perayaan yang berpijak pada realitas seraya merawat harapan. Pandemi hendaknya tidak memupus mimpi tentang Indonesia maju.    

Sumber: https://m.mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2091-menapak-realitas-untuk-indonesia-maju

Komentar

Postingan Populer